Maka apakah kamu mengira,
bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa
kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? (QS Al Mukminun: 115)
Tujuan penciptaan tersebut dijelaskan dalam beberapa ayat
dalam al-Quran. Diantaranya:
Yang menjadikan mati dan
hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 2)
Dan Dialah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa dan adalah Arsy-Nya di atas air, agar Dia
menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata
(kepada penduduk Mekah), Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati,
niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata, Ini tidak lain hanyalah sihir
yang nyata. (QS. Hud: 7)
Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jelaslah hikmah penciptaan mereka adalah untuk ujian
dengan beribadah kepada Allah sehingga akan dibalas yang berbuat baik dengan
kebaikan dan yang berbuat buruk dengan siksaan. Inilah hikmah penciptaan mereka
dan kebangkitan mereka setelah kematian.
Oleh karena itu, Allah tidak membiarkan mereka begitu
saja tanpa petunjuk, namun Allah mengutus para Rasul kepada mereka untuk
menjelaskan petunjuk Allah agar mereka dapat lulus dalam ujian tersebut. Sudah
menjadi sunnatullah, pengutusan para Rasul kepada seluruh umat manusia untuk
menegakkan petunjuk dan hujjahNya sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:
Dan sesungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thagut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan
baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl: 36)
Sesungguhnya Kami mengutus
kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai
pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya
seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir: 24)
(Mereka Kami utus) selaku
rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada
alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.
Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisaa`:165)
Jadilah para Rasul sebagai perantara dan utusan Allah
dalam penyampaian perintah dan laranganNya serta bimbingan kepada manusia guna
mencapai kemaslahatan dunia dan akhiratnya.
Setelah itu Allah menjadikan Nabi shallallohu alaihi wa
sallam sebagai penutup para Nabi dan Rasul dan diutus kepada seluruh umat
manusia. Lalu Allah sempurnakan agama Islam dengannya. Rasululloh Muhammad
shallallohu alaihi wa sallam diutus dikala kekufuran telah menguasai dunia dan
agama telah banyak dilupakan manusia. Lalu beliau berjuang mengembalikan iman
yang telah hilang dan melenyapkan kesyirikan dan kekufuran berupa penyembahan
berhala (paganisme), penyembahan api dan salib. Sehingga tegaklah tonggak agama
yang Allah ridhoi dan merendahlah kaum kafir dari ahli kitab dan musyrikin.
Dia-lah yang mengutus
Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya
di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. (QS. Shoff: 9)
Demikianlah Allah mengutus Muhammad shallallohu alaihi
wa sallam sebagai rahmat dan nikmat yang paling agung bagi manusia. Allah
berfirman:
Tidakkah kamu perhatikan
orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya
kelembah kebinasaan. (QS. Ibrohim: 28)
Mereka adalah orang-orang yang tidak beriman kepada
Rasululloh shallallohu alaihi wa sallam . Sehingga dengan demikian
kerasulan beliau shallallohu alaihi wa sallam
adalah nikmat yang teragung yang Allah anugerahkan kepada hambaNya.
Umat Islam dan Nabi Muhammad shallallohu
alaihi wa sallam.
Allah telah memuliakan umat Islam ini dengan nabi
Muhammad shallallohu alaihi wa sallam yang merupakan penutup para nabi, imam
orang-orang yang bertaqwa, sayyid bani Adam dan pemilik keutamaan dan
keistimewaan yang tidak dimiliki selainnya. Lalu ditambah lagi dengan beraneka
ragam keistimewaan yang lain. Bahkan mereka diberi dua bagian dari rahmatNya,
Hai orang-orang yang beriman
(kepada para rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya,
niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu
cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu)
supaya ahli kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikit pun akan
karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya
karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Hadid: 28-29)
Hal ini juga dijelaskan Rasululoh shallallohu alaihi wa
sallam dalam sabda beliau:
Sesungguhnya ajal (usia)
kalian dibanding ajal (usia) umat-umat terdahulu seperti antara sholat Ashr
sampai terbenam matahari. Sesungguhnya permisalan kalian dengan Yahudi dan Nashrani
seperti seseorang mempekerjakan buruh. Lalu ia berkata: Siapa yang bekerja
untukku sampai tengah hari dengan bayaran satu Qiraath. Maka Yahudi bekerja
sampai pertengahan hari dengan mendapat satu qiraath.
Kemudian ia berkata: Siapa
yang bekerja untukku dari pertengahan hari sampai sholat Ashr dengan bayaran satu qiraath.
Lalu Nashrani mengerjakannya dari pertengahan hari sampai sholat Ashr dengan
bayaran satu qiraath. Kemudia ia berkata lagi: Siapa yang bekerja untukku dari
sholat Ashr sampai terbenam matahari dengan bayaran dua qiraath? Ketahuilah
kalianlah yang bekerja dari sholat Ashr sampai terbenam matahari dengan
bayaran dua qiraath.
Ketahuilah kalian mendapat
pahala dua kali lipat. Lalu Yahudi dan Nashrani protes, mereka berkata: Kamilah
yang lebih banyak amalannya namun lebih sedikit pemberiannya. Allah berfirman:
Apakah Aku telah menzholimi kalian sesuatu dari hak kalian? Mereka menjawab:
Tidak. Allah berfirman lagi: Sungguh keutamaanKu Aku berikan kepada siapa yang
Aku sukai. (HR al-Bukhori).
Ibnu Katsir rahimahulloh menyatakan, Yang dimaksud dari
penyerupaan dengan buruh ini adalah perbedaan upah mereka. Dan itu bukanlah
bersumber dari banyak dan sedikitnya amalan, bahkan dengan sebab yang lain
disisi Allah. Berapa banyak amalan sedikit lebih pantas mendapatkan (pahala
besar) dari suatu amalan yang banyak. Lihatlah malam Qadar! Amalan pada malam
itu lebih utama dari ibadah seribu bulan yang tidak ada malam Qadarnya.
Mereka para sahabat Rasululloh shollallohu alaihi wa
sallam telah berinfak pada waktu-waktu, seandainya selain mereka (setelah itu)
berinfak emas seperti gunung uhud tentulah tidak akan menyamai satu mud kurma
salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya. Demikian juga Rasululloh
shollallohu alaihi wa sallam diutus menjadi Nabi dalam usia empat puluh tahun
dan meninggal dunia pada usia enam puluh tiga tahun menurut pendapat yang
masyhur. Dalam kurun waktu yang hanya dua puluh tiga tahun ini telah menampakkan ilmu yang manfaat dan
amal sholih yang mengalahkan seluruh para nabi sebelumnya hingga nabi Nuh yang
telah tinggal berdakwah pada kaumnya sembilan ratus lima puluh tahun mengajak
mereka untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak berbuat syirik. Nabi Nuh
juga beramal ketaatan kepada Allah siang malam, pagi dan sore. Umat ini
dimuliakan dan dilipat gandakan pahalanya hanya karena barokah kepemimpinan,
kemuliaan dan keagungan Nabi mereka, seperti dijelaskan dalam firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman
(kepada para rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya,
niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu
cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu)
supaya ahli kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikit pun akan
karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya
karunia itu adalah di tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Hadid: 28-29)
[Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir 2/146]
Demikianlah Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam
diutus membawa petunjuk sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, sehingga
menjadi nikmat yang agung bagi umat manusia. Oleh karena itu Allah menjelaskan
nikmat ini dalam bebrapa ayat al-Quran diantaranya:
Sungguh Allah telah memberi
karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka
seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka
ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka
adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164)
Dialah yang mengutus kepada
kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka
al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam
kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum
berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan
Allah mempunyai karunia yang bersar. (QS. Al-Jumuah: 2-4)
Sebagaimana Kami telah
mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan
al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS.
Al-Baqarah: 151-152)
Sesungguhnya telah datang
kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi
penyayang terhadap orang-orang mumin. (QS. At-Taubah: 128)
Pengutusan Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam
kepada manusia seluruhnya menjadi nikmat yang paling agung karena menjadi sebab
terhindarnya orang-orang yang mendapat petunjuk, dari adzab yang kekal. Itu
semua dengan sebab iman kepada Allah dan RasulNya shollallohu alaihi wa sallam
serta menjauhi semua yang mengantar kepada neraka dan kekekalan disana.
Oleh karena itu, kebutuhan manusia akan iman kepada
Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam dan mengamalkan semua yang dibawa
beliau berupa agama ini melebihi kebutuhan mereka terhadap makan dan minum,
bahkan kepada udara yang menjadi sumber pernafasan mereka. Karena mereka ketika
kehilangan petunjuk tersebut maka neraka adalah balasan orang yang mendustakan
Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam dan berpaling dari ketaatan kepadanya.
Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:
Maka, Kami memperingatkan
kamu dengan api yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali
orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari
iman. (QS. Al-Lail: 14-16)
Karena demikian tinggi kedudukan Nabi shollallohu alaihi
wa sallam di sisi Allah dan mendesaknya kebutuhan manusia yang demikian
tingginya, maka Allah mewajibkan kepada umat ini kewajiban dan hak-hak yang
mengatur ikatan dan hubungan antara mereka dengan Rasululloh shollallohu
alaihi wa sallam. Hak-hak ini ada yang
berhubungan dengan risalah kerasulannya dan ada yang berhubungan dengan pribadi
beliau langsung.
Namun ironisnya, dizaman ini banyak sekali kaum muslimin
yang tidak mengetahui hak-hak beliau shollallohu alaihi wa sallam, sehingga
tampak muncul dua kelompok yang ekstrim
dan saling bertentangan.
Pertama adalah kelompok
kaum muslimin yang tidak memberikan perhatian secara proporsional terhadap
hak-hak ini sehingga mereka seakan-akan tidak pernah perhatian terhadap hak-hak tersebut.
Kedua adalah kelompok
yang ekstrim berlebihan sehingga tercebur dalam kubangan kebidahan. Mereka
menganggap amalan mereka adalah yang terbaik dan sempurna dalam menunaikan
hak-hak tersebut dan menuduh selainnya tidak menunaikannya.
Kedua kelompok ini salah dan menyimpang dari jalan yang
lurus.
Oleh karena itu sudah seharusnya kita kembali belajar
tentang hak-hak Rasululloh shollallohu alaihi wa sallam yang telah dijelaskan
dalam al-Quran dan Sunnah serta telah dijelaskan para salaf (pendahulu) umat
ini dan para imam-imam besar umat ini. Semoga dengan demikian dapat dijelaskan
hak-hak tersebut dengan jelas, gamblang dan benar kepada masyarakat dan
diamalkan dalam sisi kehidupan mereka.
Penulis: Ust. Kholid Syamhudi, Lc.
Semoga Allah melimpahkan
taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang
dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam
semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi
kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para
sahabatnya.