Media Dakwah PPME AMSTERDAM. Terbit Setiap Hari Jumat .
Yang Terlupa Dari Keikhlasan
Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga
kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah
kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat
fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di
akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan
diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
Maka sembahlah Allah dengan
mengikhlaskan agama kepada-Nya. (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal
perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Masud Radhiyallahu anhu berkata, Perkataan dan
perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan
tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba
kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam)
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan
membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan
keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi
dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus
Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama
lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun,
apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah
ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena
Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya
(ingin dilihat manusia) ataupun sumah (ingin didengar manusia), bukan pula
karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara
manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila
engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua
hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas.
Fudhail bin Iyadh berkata, Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan
amal karena manusia adalah riya.
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan
itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat,
membaca al quran , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah,
ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan
dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus
ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau
meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas.
Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau
tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak
pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti
ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau
tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai
saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ada
seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus
malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu
bertanya, Hendak ke mana engkau ? maka dia pun berkata Aku ingin mengunjungi
saudaraku yang tinggal di kota ini. Maka malaikat itu kembali bertanya Apakah
engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ? orang itu
pun menjawab: Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya
karena Allah, malaikat itu pun berkata Sesungguhnya aku adalah utusan Allah
untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana
engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya. (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini
mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai
balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai
oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan
perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan
diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di
mulut istrimu. (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan hanya
dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila
dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana
pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena
Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih
besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya
kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena
Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah,
sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal
namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita
melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan
pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, Betapa
banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal
yang besar menjadi kecil hanya karena niat.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seorang
laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan
singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun
masuk surga karenanya. (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan,
namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits
lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Dahulu ada seekor
anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir
mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur
dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan
minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya. (HR Bukhari
Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah
hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata
manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah
pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya,
wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak
ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu
Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan
bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang
berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?
maka Rasulullah pun menjawab: Dia tidak mendapatkan apa-apa. Orang itu pun
mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: Dia tidak
mendapatkan apa-apa. Kemudian beliau berkata: Sesungguhnya Allah tidak akan
menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.
(Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa
seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia
tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan
balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami
akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas.
Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut
harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam), maka
keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.
Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis
menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,
Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka. (Qs. Shod: 82-83).
Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas
adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan,
sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya Demikianlah,
agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf
itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. ( Qs. Yusuf : 24).
Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah
terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal
faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut
sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas,
maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti,
apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan,
ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya
keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita
selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan
kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
**************************************
Penulis: Abu Uzair Boris Tanesia
Murojaah: Ust. Ahmad Daniel, Lc.
Semoga Allah melimpahkan
taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang
dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam
semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi
kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para
sahabatnya.
PPME AMSTERDAM BIDANG DAKWAH
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP
Amsterdam, 13maret 2009 / 17rabiulawal1430
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel
diatas kirim ke:
E-Mail: Euromoslem Amsterdam:
Dit e-mail adres is beschermd door spambots, u heeft Javascript nodig om dit onderdeel te kunnen bekijken